Tokoh Kita

Tokoh Kita : K. H. Abdul Chalim Leuwimunding

Hai #TemanPemilih, hari ini KPU Kab. Temanggung mengajak teman semua untuk mengenal lebih jauh sosok salah satu Pahlawan Nasional, K. H. Abdul Chalim K. H. Abdul Chalim atau yang lebih dikenal dengan nama K. H. Abdul Chalim Leuwimunding lahir di Majalengka pada 2 Juni 1898. Beliau menjalani masa muda dengan belajar di berbagai pondok pesantren, hingga berangkat untuk belajar ke Makkah pada tahun 1913. Di tahun 1922 atas nasehat dari guru beliau, beliau memutuskan berhijrah dari Majalengka ke Surabaya dengan berjalan kaki. Di Surabaya beliau kemudian aktif di berbagai organisasi dakwah dan terlibat dalam pendirian Nahdlatul Ulama. Beliau adalah Katib Tsani pertama PBNU pada 1926. Saat Rais Akbar NU menyerukan Resolusi Jihad, beliau menggerakkan rakyat dari wilayah Majalengka dan Cirebon untuk ikut berjuang di Pertempuran Surabaya 10 November 1945. K. H. Abdul Chalim kemudian tercatat berkiprah sebagai anggota MPRS, hingga wafat pada 11 April 1972. Pemerintah Indonesia menganugerahi beliau gelar Pahlawan Nasional melalui Keppres No. 115/TK/2023 bersamaan momen Hari Pahlawan tahun 2023. Itulah kisah Tokoh Kita kali ini, nantikan kisah dari tokoh-tokoh lainnya yang akan dibagikan di media sosial KPU Kab. Temanggung #kputemanggung #tokohkita #abdulchalim

Tokoh Kita : Ir. H. Budiarto, M.T.

Hai #TemanPemilih, hari ini KPU Kab. Temanggung mengajak teman semua untuk mengenal lebih jauh sosok salah satu tokoh Kabupaten Temanggung, yaitu Ir. H. Budiarto, M. T. Ir. H. Budiarto, M. T. lahir di Surakarta pada 10 April 1959. Beliau adalah Wakil Bupati Temanggung ke-2, namun merupakan Wakil bupati pertama yang dipilih secara langsung oleh rakyat melalui Pilkada. Beliau menjalani pendidikan dasar hingga menengah di Semarang, hingga melanjutkan studi di Teknik Sipil Universitas Diponegoro dan lulus di tahun 1985. Beliau juga berhasil menyelesaikan program magister di universitas yang sama pada tahun 2002. Sejak lulus pendidikan S-1, beliau meniti karier sebagai PNS di Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kabupaten Temanggung, hingga menjadi Kepala DPU Kab. Temanggung pada 1992-2003. Pada tahun 2003 beliau dipercaya menjadi Staf Khusus Bupati Temanggung, kemudian menjadi Kepala Dishubpar Kab. Temanggung pada tahun 2006, sebelum akhirnya mencalonkan diri di Pilkada Temanggung Tahun 2008 berpasangan dengan Drs. K. H. Hasyim Afandi. Di Pilkada Temanggung tahun 2008 pasangan Hasyim-Budiarto diusung oleh Partai Golkar dan PAN. Pasangan ini berhasil menang dengan perolehan suara sebesar 145.323 (35.10% dari total 414.001 suara sah). Tingkat partisipasi pemilih saat itu sebesar 81.03% dari 555.032 pemilih yang terdaftar di DPT. Pada Pilkada 2013, dimana Bupati Hasyim Afandi menolak untuk kembali ikut berkontestasi, Wakil Bupati Budiarto mencalonkan diri sebagai bupati berpasangan dengan Dedy Hariyadi, S. E.. Paslon yang diusung oleh PPP, Partai Demokrat, Partai Golkar, PKNU dan Partai Hanura ini finish di peringkat 3 dari 5 paslon yang ada, dengan perolehan sebanyak 92.310 suara (20.78%). Saat itu paslon Drs. H. M. Bambang Sukarno - Irawan Prasetyadi, S. Si yang diusung oleh PDI Perjuangan berhasil menang dengan perolehan sebanyak 180.927 suara (40.73%). Angka partisipasi pemilih pada Pilkada Temanggung 2013 itu tercatat sebesar 82.89% Itulah kisah Tokoh Kita kali ini, nantikan kisah dari tokoh-tokoh lainnya yang akan dibagikan di media sosial KPU Kab. Temanggung #kputemanggung #tokohkita #budiarto

Tokoh Kita : Dra. Hj. Rustriningsih, M.Si.

Hai #TemanPemilih, hari ini KPU Kab. Temanggung mengajak teman semua untuk mengenal lebih jauh sosok salah satu tokoh Jawa Tengah, yaitu Dra. Hj. Rustriningsih, M. Si.  Dra. Hj. Rustriningsih, M. Si. lahir di Kebumen pada 3 Juli 1967. Beliau adalah Wakil Gubernur Jawa Tengah pertama yang dipilih secara langsung oleh rakyat melalui Pilkada, sekaligus wakil gubernur perempuan pertama di Jawa Tengah.  Beliau menyelesaikan pendidikan S-1 nya di Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto pada 1991, kemudian melanjutkan studi S-2 di Universitas Gajah Mada. Lahir sebagai putri dari seorang aktivis PNI dan PDI membuat beliau juga turut aktif di PDI sejak muda hingga menjadi Ketua DPC PDI Kebumen pada 1996, kemudian menjadi Ketua DPC PDI Perjuangan Kebumen pada 1999, yang mengantar beliau untuk duduk sebagai Anggota DPR RI pada 1 Oktober 1999. Beliau terpilih menjadi bupati perempuan pertama di Kebumen dan menjabat selama 2 periode sejak 23 Maret 2000. Saat menjadi bupati beliau membuat banyak gebrakan, salah satunya mendirikan stasiun TV milik pemerintah daerah (Ratih TV) pada Oktober 2003 di saat banyak daerah belum memilikinya. Di TV tersebut setiap pagi beliau muncul untuk menerima dan menjawab aduan masyarakat.  Pada Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Tengah secara langsung oleh rakyat untuk pertama kalinya pada 2008, beliau ikut mencalonkan diri sebagai calon wakil gubernur berpasangan dengan Bibit Waluyo (mantan Pangkostrad). Pasangan ini berhasil mengalahkan 4 paslon lainnya, dengan perolehan suara sebesar 43.44% (6.084.261). Dra. Hj. Rustriningsih, M. Si. dilantik sebagai wakil gubernur perempuan pertama di Jawa Tengah pada 23 Agustus 2008. Beliau adalah salah satu deklarator Nasional Demokrat (Nasdem) pada 2012, namun memutuskan keluar setelah ormas tersebut berubah menjadi parpol. Di tahun 2013 nama beliau sempat muncul dalam bursa calon gubernur Jawa Tengah, sebelum akhirnya PDI Perjuangan mencalonkan Ganjar Pranowo.  Itulah kisah Tokoh Kita kali ini, nantikan kisah dari tokoh-tokoh lainnya yang akan dibagikan di media sosial KPU Kab. Temanggung #kputemanggung #tokohkita #rustriningsih

Tokoh Kita : Drs. K. H. Hasyim Afandi

Hai #TemanPemilih, hari ini KPU Kab. Temanggung mengajak teman semua untuk mengenal lebih jauh sosok salah satu tokoh Kabupaten Temanggung, yaitu Drs. K. H. Hasyim Afandi Drs. K. H. Hasyim Afandi lahir di Temanggung pada 1 Juli 1946. Beliau adalah Bupati Temanggung ke-21, sekaligus bupati pertama yang dipilih secara langsung oleh rakyat melalui Pilkada. Setelah menyelesaikan studi di SMAN Temanggung (sekarang SMAN 1 Temanggung) tahun 1965, beliau melanjutkan studi di Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta hingga lulus di 1971. Sejak 1977 beliau meniti karier di lingkungan Departemen Agama, kemudian terpilih menjadi Anggota DPRD Temanggung selama 2 periode sejak 1982, hingga terpilih menjadi Bupati Magelang pada 22 Maret 1999 untuk periode 1999-2004. Beliau dikenal sebagai pribadi yang santun namun tegas, pekerja keras, menjalankan nilai ke-Islaman secara kuat dan anti KKN. Karakter itu yang mengantar beliau berhasil terpilih kembali menjadi bupati, namun di daerah yang berbeda, yakni di kampung halaman Temanggung. Beliau terpilih melalui Pilkada langsung oleh rakyat untuk periode 2008-2013. Di Pilkada Temanggung tahun 2008 tersebut, beliau berpasangan dengan Ir. Budiarto, M. T. (Kepala Disbudpar Kab. Temanggung), diusung oleh Partai Golkar dan PAN. Pasangan ini berhasil menang dengan perolehan suara sebesar 145.323 (35.10% dari total 414.001 suara sah). Tingkat partisipasi pemilih saat itu sebesar 81.03% dari 555.032 pemilih yang terdaftar di DPT.  Kemenangan pasangan Hasyim-Budiarto ditetapkan oleh KPU Temanggung pada 30 Juni 2008 dan pelantikan oleh Gubernur Jawa Tengah dilangsungkan pada 27 Juli 2008. Setelah menyelesaikan masa jabatan sebagai bupati, beliau kembali giat berdakwah dan mengasuh Pondok Pesantren Nida Al Qur'an di Paladan, Kedu. Drs. K. H. Hasyim Afandi wafat pada 5 Juli 2021 di masa pandemi covid dalam usia 75 tahun dan dimakamkan di Besaran, Parakan.  Itulah kisah Tokoh Kita kali ini, nantikan kisah dari tokoh-tokoh lainnya yang akan dibagikan di media sosial KPU Kab. Temanggung #kputemanggung #tokohkita #hasyimafandi

Tokoh Kita : Raden Tumenggung Maktal Dipodirdjo

Hai #TemanPemilih, hari ini KPU Kab. Temanggung mengajak teman semua untuk mengenal lebih jauh sosok salah satu tokoh Kabupaten Temanggung, yaitu Raden Tumenggung Maktal Dipodirdjo R. T. Maktal Dipodirdjo adalah Bupati Temanggung ke-8, sekaligus bupati pertama yang menjabat di era kemerdekaan Republik Indonesia.  Beliau tercatat pernah mengumpulkan para ulama, pimpinan pondok pesantren dan tokoh masyarakat di Alun-alun Temanggung untuk menggalang dukungan bagi perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. R. T. Maktal Dipodirdjo wafat hanya beberapa saat setelah menjabat sebagai bupati. Posisi beliau kemudian digantikan oleh Raden Soetigwo, yang diangkat oleh Komite Nasional Indonesia Daerah (KNID) Temanggung pada 2 September 1945. Saat itu Temanggung terdiri dari 3 kawedanan, yakni Kawedanan Temanggung (Kecamatan Temanggung, Tembarak, Pringsurat dan Kaloran), Kawedanan Parakan (Kecamatan Parakan, Bulu, Kedu dan Kandangan) dan Kawedanan Candiroto (Kecamatan Candiroto, Tretep, Jumo dan Ngadirejo)  Itulah kisah Tokoh Kita kali ini, nantikan kisah dari tokoh-tokoh lainnya yang akan dibagikan di media sosial KPU Kab. Temanggung #kputemanggung #tokohkita #maktaldipodirdjo

Tokoh Kita : Raden Tumenggung Arya Djojonegoro

Hai #TemanPemilih, hari ini KPU Kab. Temanggung mengajak teman semua untuk mengenal lebih jauh sosok salah satu tokoh Kabupaten Temanggung, yaitu Raden Tumenggung Arya Djojonegoro R. T. A. Djojonegoro adalah Bupati Temanggung pertama yang menjabat sejak tahun 1834. Sebelumnya beliau bertindak sebagai bupati ke-2 Kabupaten Menoreh yang berkedudukan di Parakan sejak 7 April 1826. Pasca Perang Jawa berakhir, beliau memindahkan ibukota dan mengubah nama kabupaten menjadi Temanggung. Pemindahan ibukota setidaknya didasarkan pada dua latar belakang; Pertama, adanya pandangan masyarakat Jawa pada saat itu, bahwa ibukota yang pernah diserang dan diduduki musuh dianggap perlu ditinggalkan. Kedua, Distrik Menoreh yang menjadi asal nama Kabupaten Menoreh, sudah digabung dengan Kabupaten Magelang, sehingga nama Kabupaten Menoreh dianggap sudah tidak tepat lagi.  Atas dasar usulan Raden Tumenggung Arya Djojonegoro, Residen Kedu saat itu melalui suratnya tanggal 13 September 1834 mengusulkan untuk mengganti nama Kabupaten Menoreh menjadi Kabupaten Temanggung kepada Pemerintah Hindia Belanda di Batavia. Persetujuan perubahan nama kabupaten kemudian disahkan melalui Resolusi Pemerintah Hindia Belanda Nomor 4 Tanggal 10 November 1834, tanggal inilah yang hingga saat ini diperingati sebagai hari jadi Kabupaten Temanggung. R. T. A. Djojonegoro dan istri beliau dimakamkan di kompleks Masjid Agung Darussalam Temanggung. Proses penggantian songsong di makam tersebut selalu dilakukan tiap momen peringatan hari jadi Kabupaten Temanggung. Itulah kisah Tokoh Kita kali ini, nantikan kisah dari tokoh-tokoh lainnya yang akan dibagikan di media sosial KPU Kab. Temanggung #kputemanggung #tokohkita #bupatidjojonegoro

Populer

🔊 Putar Suara