Tokoh Kita

Tokoh Kita : K.H. Zainul Arifin Pohan

Hai #TemanPemilih, hari ini KPU Kab. Temanggung mengajak teman semua untuk mengenal lebih jauh sosok salah satu tokoh Bangsa Indonesia, yaitu K. H. Zainul Arifin Pohan K. H. Zainul Arifin Pohan adalah salah satu Pahlawan Nasional yang lahir di Tapanuli Tengah pada 2 September 1909. Beliau adalah keturunan bangsawan Barus, sebuah daerah di Sumatera Utara yang sudah dikenal sejak peradaban Mesir Kuno sebagai penghasil kapur barus. Beliau merantau ke Batavia di usia 16 tahun. Sejak tinggal di Batavia, beliau aktif di GP Ansor. Kepiawaian dalam berdakwah, berdebat dan berpidato membuat beliau segera mendapat amanah menjadi Ketua Konsul NU Jatinegara, dan kemudian Ketua Majelis Konsul NU Batavia. Beliau jugat terlibat dalam pembentukan pasukan paramiliter Laskar Hizbullah di era penjajahan Jepang, hingga menjadi panglimanya. Pasca Indonesia merdeka, beliau tetap memimpin perjuangan gerilya Laskar Hizbullah, sembari bergabung di KNIP (cikal bakal DPR) sebagai perwakilan Partai Masyumi. Setelah NU keluar dari Masyumi, beliau menjadi perwakilan NU di DPRS. Kemudian pada 1953 di masa Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo, beliau bertindak sebagai Wakil Perdana Menteri. Kabinet di era tersebut yang sukses menyelenggarakan Konferensi Asia Afrika. K. H. Zainul Arifin Pohan terpilih sebagai Anggota Konstituante pada Pemilu 1955. Setelah Presiden Sukarno mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959 yang membubarkan Konstituante dan membentuk DPR-GR (DPR Gotong Royong), beliau terpilih menjadi Ketua DPR-GR pertama, menggantikan Mr. R. M. Sartono yang sudah menjabat ketua sejak era DPR RIS, DPRS hingga DPR hasil Pemilu 1955. Pada 14 Mei 1962, saat melaksanakan shalat Idul Adha di Masjid Baiturrahim Istana Negara, beliau menjadi korban salah sasaran tembak dalam percobaan pembunuhan presiden. Setelah dirawat selama 10 bulan, K. H. Zainul Arifin Pohan wafat pada 2 Maret 1963 dan dimakamkan di TMPN Kalibata. Itulah kisah Tokoh Kita kali ini, nantikan kisah dari tokoh-tokoh lainnya yang akan dibagikan di media sosial KPU Kab. Temanggung #kputemanggung #tokohkita #kyaizainularifin

Tokoh Kita : Mr. R. M. Sartono

Hai #TemanPemilih, hari ini KPU Kab. Temanggung mengajak teman semua untuk mengenal lebih jauh sosok salah satu tokoh Bangsa Indonesia, yaitu Mr. R. M. Sartono Mr. Raden Mas Sartono adalah salah satu tokoh pejuang kemerdekaan yang lahir di Wonogiri pada 5 Agustus 1900. Sosok yang berasal dari Trah Mangkunagaran Surakarta ini menyelesaikan pendidikan di Rechtshoogeschool te Batavia (sekarang FH Universitas Indonesia) pada 1922, kemudian melanjutkan studi di Universitas Leiden Belanda hingga tahun 1926. Beliau sudah aktif di pergerakan kemerdekaan sejak muda, dengan menjadi sekretaris Perhimpunan Indonesia (PI) di Belanda, lalu ikut mendirikan PNI (Partai Nasional Indonesia) pada 4 Juli 1927, dan ikut menjadi sponsor pelaksanaan Kongres Pemuda II 28 Oktober 1928. Pada 1931 beliau mendirikan sekaligus mengetuai Partindo (Partai Indonesia), kemudian ikut mendirikan Gerindo (Gerakan Rakyat Indonesia) pada 1937. Jelang kemerdekaan, beliau terlibat sebagai anggota BPUPKI. Lalu setelah Indonesia merdeka, beliau ditunjuk sebagai Menteri Negara di kabinet pertama RI. Ketika RIS (Republik Indonesia Serikat) terbentuk pada 1949 sebagai hasil Konferensi Meja Bundar (KMB), beliau terpilih menjadi Ketua DPR RIS. Perolehan suara beliau berhasil mengalahkan 2 kandidat lainnya, Mr. Mohammad Yamin dan Mr. Tambunan. Jabatan Ketua DPR terus beliau emban bahkan hingga RIS dibubarkan dan RI kembali berdaulat penuh. Beliau tetap diangkat menjadi ketua dari lembaga legislatif yang telah berubah nama menjadi DPR Sementara (DPRS) sejak 1950 hingga 1956. Dan kemudian menjabat sebagai ketua DPR hasil Pemilu 1955, untuk periode 1956 hingga 1959. Mr. R. M. Sartono juga pernah dua kali mengucap sumpah sebagai Pj. Presiden RI, hal ini sesuai ketentuan UU No. 29 Tahun 1957 Pasal 2 yang menegaskan bahwa yang ditunjuk untuk menjalankan pekerjaan dalam situasi Presiden mangkat atau berhalangan adalah Ketua Parlemen. Salah satu UU yang kemudian ditandatangani beliau selaku Pj. Presiden adalah UU No. 8 Tahun 1958 tentang perubahan nama provinsi Sunda Kecil menjadi Nusa Tenggara. Selepas masa jabatan ketua DPR, Presiden Sukarno memberi amanah pada beliau untuk mejadi Wakil Ketua DPA (Dewan Pertimbangan Agung) sejak 1962 hingga 1966. Mr. R. M. Sartono wafat di Jakarta pada 15 Oktober 1968 dan dimakamkan di Pemakaman Kerabat Mangkunagaran, Astana Bibis Luhur Surakarta Itulah kisah Tokoh Kita kali ini, nantikan kisah dari tokoh-tokoh lainnya yang akan dibagikan di media sosial KPU Kab. Temanggung #kputemanggung #tokohkita #sartono

Tokoh Kita : Prof. Dr. Mr. H. R. Kasman Singodimedjo

Hai #TemanPemilih, hari ini KPU Kab. Temanggung mengajak teman semua untuk mengenal lebih jauh sosok salah satu tokoh Bangsa Indonesia, yaitu Prof. Dr. Mr. H. R. Kasman Singodimedjo Kasman Singodimedjo adalah salah satu Pahlawan Nasional yang lahir di Purworejo pada 25 Februari 1904. Beliau sempat mengenyam pendidikan di STOVIA (sekarang FK UI) dan aktif di Jong Java, hingga mendirikan Jong Islamieten Bond pada 1925 (ikut serta dalam Sumpah Pemuda), sembari mengajar di berbagai sekolah Muhammadiyah. Beliau kemudian tidak selesaikan pendidikan di STOVIA karena memutuskan pindah ke RHS (Recht Hoge School/Sekolah Tinggi Hukum, sekarang FH UI) hingga meraih gelar Mr. (Meester in Rechter/Sarjana Hukum). Pada 1938 Kasman Singodimedjo ikut membentuk Partai Islam Indonesia. Beliau ditangkap oleh pemerintah Hindia Belanda pada 1940 akibat meneriakkan, "Untuk Indonesia Merdeka!" di Konferensi Muhammadiyah se-Jawa Barat. Pasca proklamasi kemerdekaan, Sukarno melibatkan beliau dalam keanggotaan PPKI. Beliau kemudian ditunjuk sebagai Ketua BKR (Badan Keamanan Rakyat), yang nantinya berubah nama menjadi TKR (Tentara Keamanan Rakyat). Saat terpilih menjadi Ketua KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat), parlemen pertama di Indonesia, beliau yang menginisiasi perubahan nama TKR menjadi TNI. Beberapa waktu kemudian Presiden Sukarno menunjuk Kasman Singodimedjo untuk menjadi Jaksa Agung, dan di tahun 1947 beliau ditunjuk oleh PM Amir Syarifuddin menjadi Menteri Muda Kehakiman. Pada Pemilu 1955 beliau lalu terpilih menjadi Anggota Konstituante mewakili Partai Masyumi. Di tahu 1963 beliau bersama Buya Hamka, Mohammad Roem dan beberapa tokoh Masyumi lain sempat ditangkap dengan tuduhan terlibat dalam pemberontakan PRRI/Permesta hingga berujung pembubaran Partai Masyumi. Beliau juga adalah salah satu tokoh penandatangan Petisi 50 yang mengkritisi Presiden Soeharto. Hingga saat presiden pada 12 Agustus 1992 menganugerahkan Bintang Mahaputera kepada para mantan anggota BPUPKI dan PPKI, nama Kasman Singodimedjo diduga sengaja tidak diikutsertakan. Prof. Dr. Mr. H. R. Kasman Singodimedjo wafat di Jakarta pada 25 Oktober 1982 dan dimakamkan di TPU Tanah Kusir Itulah kisah Tokoh Kita kali ini, nantikan kisah dari tokoh-tokoh lainnya yang akan dibagikan di media sosial KPU Kab. Temanggung #kputemanggung #tokohkita #kasmansingodimedjo

Tokoh Kita : Mr. Alexander Andries Maramis

Hai #TemanPemilih, hari ini KPU Kab. Temanggung mengajak teman semua untuk mengenal lebih jauh sosok salah satu tokoh Bangsa Indonesia, yaitu Mr. Alexander Andries Maramis. Mr. Alexander Andries Maramis adalah Pahlawan Nasional yang lahir di Manado pada 20 Juni 1897. Beliau menyelesaikan studi ilmu hukum di Universitas Leiden Belanda pada tahun 1924. Selama kuliah, beliau ikut aktif di organisasi Perhimpunan Indonesia, bahkan pernah menjabat sebagai sekretaris. Menjelang kemerdekaan di tahun 1945, beliau dipercaya menjadi salah satu anggota Panitia Sembilan BPUPKI (satu-satunya yang beragama Kristen) yang merumuskan dasar negara dan rancangan konstitusi. Setelah Indonesia Merdeka, beliau sempat menjadi anggota KNIP, hingga akhirnya diangkat menjadi Menteri Keuangan RI selama 5 kabinet (termasuk saat menjabat Menteri Luar Negeri merangkap Menteri Keuangan di Pemerintah Darurat Republik Indonesia/PDRI). Beliau adalah penandatangan Oeang Republik Indonesia (ORI) yang pertama. Pada masa setelahnya, beliau dipercaya oleh Presiden Sukarno menjadi duta besar di berbagai negara seperti Filipina, Jerman Barat, Uni Soviet dan Finlandia. Mr. Alexander Andries Maramis wafat di Jakarta pada 31 Juli 1977 dan dimakamkan di TMPN Kalibata. Nama beliau kemudian diabadikan menjadi nama gedung induk Kementerian Keuangan RI. Itulah kisah Tokoh Kita kali ini, nantikan kisah dari tokoh-tokoh lainnya yang akan dibagikan di media sosial KPU Kab. Temanggung #kpu #komisipemilihanumum #kputemanggung #tokohkita

Tokoh Kita : K. H. Abdul Wahid Hasyim

Hai #TemanPemilih, hari ini KPU Kab. Temanggung mengajak teman semua untuk mengenal lebih jauh sosok salah satu tokoh Bangsa Indonesia, yaitu K. H. Abdul Wahid Hasyim   K. H. Abdul Wahid Hasyim adalah Pahlawan Nasional yang merupakan putra dari K. H. Muhammad Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama. Beliau lahir di Jombang pada 1 Juni 1914. Masa kecil beliau dilalui dengan menempuh Pendidikan di berbagai pondok pesantren, seperti Ponpes Tebuireng Jombang, Ponpes Siwalan Panji Sidoarjo dan Ponpes Lirboyo Kediri. Pada 1934 beliau kemudian berangkat ke Makkah untuk berhaji dan belajar disana. Sepulang ke tanah air, tokoh yang menguasai 3 bahasa asing (Arab, Belanda dan Inggris) ini aktif di Nahdlatul Ulama dan Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI), gabungan 13 partai politik dan ormas Islam di Hindia Belanda. Saat penjajah Jepang tiba di tanah air, MIAI dibubarkan dan berubah menjadi Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi), dimana beliau terpilih sebagai ketuanya pada 24 Oktober 1943   Beliau juga ikut mendirikan Sekolah Tinggi Islam pada 1945, perguruan tinggi yang nantinya berubah nama menjadi Universitas Islam Indonesia. Menjelang kemerdekaan di tahun 1945 tersebut, di usia 30 tahun beliau dipercaya menjadi anggota Panitia Sembilan BPUPKI untuk ikut merumuskan dasar negara dan rancangan konstitusi. Setelah Indonesia Merdeka, Presiden Sukarno mengangkat beliau menjadi salah satu Menteri Negara. Lalu saat negara berbentuk Republik Indonesia Serikat (RIS), PM Mohammad Hatta mempercayakan jabatan Menteri Agama pada beliau. Setelah RIS dibubarkan, jabatan Menteri Agama RI kembali dipercayakan pada beliau di Kabinet Natsir dan Kabinet Sukiman   Pada Muktamar NU ke-19 di Palembang tahun 1951, beliau terpilih sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). NU kemudian keluar dari Masyumi pada tanggal 5 April 1952. Di Pemilu 1955, NU berhasil meraih sebanyak 18.4% suara (peringkat 3), sedangkan Masyumi meraih 20.9% suara (peringkat 2). K. H. Abdul Wahid Hasyim wafat di usia 38 tahun akibat kecelakaan pada tanggal 19 April 1953 dan dimakamkan di Tebuireng, Jombang. Salah satu putra beliau, K. H. Abdurrahman Wahid adalah Presiden RI ke-4 yang menjabat pada 1999-2001   Itulah kisah Tokoh Kita kali ini, nantikan kisah dari tokoh-tokoh lainnya yang akan dibagikan di media sosial KPU Kab. Temanggung #kpu #komisipemilihanumum #kputemanggung #tokohkita #demokrasi #sejarah #bpupki #panitiasembilan #wahidhasyim #nahdlatululama #masyumi

Tokoh Kita : Prof. K. H. Abdul Kahar Mudzakkir

Hai #TemanPemilih, hari ini KPU Kab. Temanggung mengajak teman semua untuk mengenal lebih jauh sosok salah satu tokoh Bangsa Indonesia, yaitu Prof. K. H. Abdul Kahar Mudzakkir Prof. K. H. Abdul Kahar Mudzakkir adalah salah satu Pahlawan Nasional yang lahir di Yogyakarta pada 16 April 1907. Beliau adalah keponakan dari H. Munawir, pendiri Pondok Pesantren Krapyak. Sedangkan kakek buyut beliau adalah Kyai Hasan Bashori, pemimpin Tarekat Syattariyah yang juga komandan laskar Pangeran Diponegoro hingga ikut diasingkan ke Minahasa. Beliau melanjutkan studi dari SD Muhammadiyah Selokraman Kotagede ke beberapa pondok pesantren: Ponpes Gading, Ponpes Krapyak, Ponpes Jamsaren Surakarta dan Ponpes Tremas Jawa Timur. Hingga kemudian guru beliau, seorang tokoh Muhammadiyah yakni K. H. Mukti mendorong beliau untuk melanjutkan belajar ke Makkah dan Kairo. Pada 1924 Abdul Kahar Mudzakkir berangkat ke Makkah untuk berhaji sekaligus menuntut ilmu, dilanjutkan belajar di Universitas Al Azhar dan Universitas Darul Ulum Mesir. Selama 13 tahun tinggal di Mesir, beliau ikut berjuang untuk Indonesia dengan mendirikan Perhimpunan Indonesia Raya yang aktif menyuarakan perjuangan Bangsa Indonesia pada negeri-negeri Arab. Beliau juga sempat menjadi sekretaris Kongres Islam Sedunia di Baitul Maqdis (diketuai oleh Mufti Besar Palestina Sayyid Amin Al Husaini) atas persetujuan pimpinan Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII). Beliau pulang ke tanah air pada 1936. Selain aktif di Muhammadiyah, beliau juga bergabung di Partai Islam Indonesia (PII) sejak 1938. Menjelang kemerdekaan, beliau ikut terlibat sebagai Anggota BPUPKI bersama para tokoh Muhammadiyah lainnya seperti Ki Bagus Hadikusumo (Ketua Umum Muhammadiyah) dan Mr. Kasman Singodimejo. Beliau dipercaya masuk ke dalam Panitia Sembilan yang bertugas menyusun rumusan dasar negara dan rancangan konstitusi Indonesia. Nama beliau juga tercatat sebagai salah satu pendiri Universitas Islam Indonesia (UII) dan menjabat sebagai rektor pertama pada 1945-1960. UII adalah perguruan tinggi swasta pertama yang didirikan pasca kemerdekaan Indonesia, sebagai hasil dari Sidang Umum Masyumi tahun 1945. Selain itu beliau juga pernah berkiprah sebagai anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) dan Konstituante dari Fraksi Masyumi. Prof. K. H. Abdul Kahar Mudzakkir wafat di Yogyakarta pada 2 Desember 1973 Itulah kisah Tokoh Kita kali ini, nantikan kisah dari tokoh-tokoh lainnya yang akan dibagikan di media sosial KPU Kab. Temanggung #kpu #komisipemilihanumum #kputemanggung #tokohkita #demokrasi #sejarah #bpupki #panitiasembilan #kaharmudzakkir #muhammadiyah #masyumi

Populer

Belum ada data.