Tokoh Kita

Tokoh Kita : Prof. Dr. Mr. H. R. Kasman Singodimedjo

Hai #TemanPemilih, hari ini KPU Kab. Temanggung mengajak teman semua untuk mengenal lebih jauh sosok salah satu tokoh Bangsa Indonesia, yaitu Prof. Dr. Mr. H. R. Kasman Singodimedjo Kasman Singodimedjo adalah salah satu Pahlawan Nasional yang lahir di Purworejo pada 25 Februari 1904. Beliau sempat mengenyam pendidikan di STOVIA (sekarang FK UI) dan aktif di Jong Java, hingga mendirikan Jong Islamieten Bond pada 1925 (ikut serta dalam Sumpah Pemuda), sembari mengajar di berbagai sekolah Muhammadiyah. Beliau kemudian tidak selesaikan pendidikan di STOVIA karena memutuskan pindah ke RHS (Recht Hoge School/Sekolah Tinggi Hukum, sekarang FH UI) hingga meraih gelar Mr. (Meester in Rechter/Sarjana Hukum). Pada 1938 Kasman Singodimedjo ikut membentuk Partai Islam Indonesia. Beliau ditangkap oleh pemerintah Hindia Belanda pada 1940 akibat meneriakkan, "Untuk Indonesia Merdeka!" di Konferensi Muhammadiyah se-Jawa Barat. Pasca proklamasi kemerdekaan, Sukarno melibatkan beliau dalam keanggotaan PPKI. Beliau kemudian ditunjuk sebagai Ketua BKR (Badan Keamanan Rakyat), yang nantinya berubah nama menjadi TKR (Tentara Keamanan Rakyat). Saat terpilih menjadi Ketua KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat), parlemen pertama di Indonesia, beliau yang menginisiasi perubahan nama TKR menjadi TNI. Beberapa waktu kemudian Presiden Sukarno menunjuk Kasman Singodimedjo untuk menjadi Jaksa Agung, dan di tahun 1947 beliau ditunjuk oleh PM Amir Syarifuddin menjadi Menteri Muda Kehakiman. Pada Pemilu 1955 beliau lalu terpilih menjadi Anggota Konstituante mewakili Partai Masyumi. Di tahu 1963 beliau bersama Buya Hamka, Mohammad Roem dan beberapa tokoh Masyumi lain sempat ditangkap dengan tuduhan terlibat dalam pemberontakan PRRI/Permesta hingga berujung pembubaran Partai Masyumi. Beliau juga adalah salah satu tokoh penandatangan Petisi 50 yang mengkritisi Presiden Soeharto. Hingga saat presiden pada 12 Agustus 1992 menganugerahkan Bintang Mahaputera kepada para mantan anggota BPUPKI dan PPKI, nama Kasman Singodimedjo diduga sengaja tidak diikutsertakan. Prof. Dr. Mr. H. R. Kasman Singodimedjo wafat di Jakarta pada 25 Oktober 1982 dan dimakamkan di TPU Tanah Kusir Itulah kisah Tokoh Kita kali ini, nantikan kisah dari tokoh-tokoh lainnya yang akan dibagikan di media sosial KPU Kab. Temanggung #kputemanggung #tokohkita #kasmansingodimedjo

Tokoh Kita : Mr. Alexander Andries Maramis

Hai #TemanPemilih, hari ini KPU Kab. Temanggung mengajak teman semua untuk mengenal lebih jauh sosok salah satu tokoh Bangsa Indonesia, yaitu Mr. Alexander Andries Maramis. Mr. Alexander Andries Maramis adalah Pahlawan Nasional yang lahir di Manado pada 20 Juni 1897. Beliau menyelesaikan studi ilmu hukum di Universitas Leiden Belanda pada tahun 1924. Selama kuliah, beliau ikut aktif di organisasi Perhimpunan Indonesia, bahkan pernah menjabat sebagai sekretaris. Menjelang kemerdekaan di tahun 1945, beliau dipercaya menjadi salah satu anggota Panitia Sembilan BPUPKI (satu-satunya yang beragama Kristen) yang merumuskan dasar negara dan rancangan konstitusi. Setelah Indonesia Merdeka, beliau sempat menjadi anggota KNIP, hingga akhirnya diangkat menjadi Menteri Keuangan RI selama 5 kabinet (termasuk saat menjabat Menteri Luar Negeri merangkap Menteri Keuangan di Pemerintah Darurat Republik Indonesia/PDRI). Beliau adalah penandatangan Oeang Republik Indonesia (ORI) yang pertama. Pada masa setelahnya, beliau dipercaya oleh Presiden Sukarno menjadi duta besar di berbagai negara seperti Filipina, Jerman Barat, Uni Soviet dan Finlandia. Mr. Alexander Andries Maramis wafat di Jakarta pada 31 Juli 1977 dan dimakamkan di TMPN Kalibata. Nama beliau kemudian diabadikan menjadi nama gedung induk Kementerian Keuangan RI. Itulah kisah Tokoh Kita kali ini, nantikan kisah dari tokoh-tokoh lainnya yang akan dibagikan di media sosial KPU Kab. Temanggung #kpu #komisipemilihanumum #kputemanggung #tokohkita

Tokoh Kita : K. H. Abdul Wahid Hasyim

Hai #TemanPemilih, hari ini KPU Kab. Temanggung mengajak teman semua untuk mengenal lebih jauh sosok salah satu tokoh Bangsa Indonesia, yaitu K. H. Abdul Wahid Hasyim   K. H. Abdul Wahid Hasyim adalah Pahlawan Nasional yang merupakan putra dari K. H. Muhammad Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama. Beliau lahir di Jombang pada 1 Juni 1914. Masa kecil beliau dilalui dengan menempuh Pendidikan di berbagai pondok pesantren, seperti Ponpes Tebuireng Jombang, Ponpes Siwalan Panji Sidoarjo dan Ponpes Lirboyo Kediri. Pada 1934 beliau kemudian berangkat ke Makkah untuk berhaji dan belajar disana. Sepulang ke tanah air, tokoh yang menguasai 3 bahasa asing (Arab, Belanda dan Inggris) ini aktif di Nahdlatul Ulama dan Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI), gabungan 13 partai politik dan ormas Islam di Hindia Belanda. Saat penjajah Jepang tiba di tanah air, MIAI dibubarkan dan berubah menjadi Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi), dimana beliau terpilih sebagai ketuanya pada 24 Oktober 1943   Beliau juga ikut mendirikan Sekolah Tinggi Islam pada 1945, perguruan tinggi yang nantinya berubah nama menjadi Universitas Islam Indonesia. Menjelang kemerdekaan di tahun 1945 tersebut, di usia 30 tahun beliau dipercaya menjadi anggota Panitia Sembilan BPUPKI untuk ikut merumuskan dasar negara dan rancangan konstitusi. Setelah Indonesia Merdeka, Presiden Sukarno mengangkat beliau menjadi salah satu Menteri Negara. Lalu saat negara berbentuk Republik Indonesia Serikat (RIS), PM Mohammad Hatta mempercayakan jabatan Menteri Agama pada beliau. Setelah RIS dibubarkan, jabatan Menteri Agama RI kembali dipercayakan pada beliau di Kabinet Natsir dan Kabinet Sukiman   Pada Muktamar NU ke-19 di Palembang tahun 1951, beliau terpilih sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). NU kemudian keluar dari Masyumi pada tanggal 5 April 1952. Di Pemilu 1955, NU berhasil meraih sebanyak 18.4% suara (peringkat 3), sedangkan Masyumi meraih 20.9% suara (peringkat 2). K. H. Abdul Wahid Hasyim wafat di usia 38 tahun akibat kecelakaan pada tanggal 19 April 1953 dan dimakamkan di Tebuireng, Jombang. Salah satu putra beliau, K. H. Abdurrahman Wahid adalah Presiden RI ke-4 yang menjabat pada 1999-2001   Itulah kisah Tokoh Kita kali ini, nantikan kisah dari tokoh-tokoh lainnya yang akan dibagikan di media sosial KPU Kab. Temanggung #kpu #komisipemilihanumum #kputemanggung #tokohkita #demokrasi #sejarah #bpupki #panitiasembilan #wahidhasyim #nahdlatululama #masyumi

Tokoh Kita : Prof. K. H. Abdul Kahar Mudzakkir

Hai #TemanPemilih, hari ini KPU Kab. Temanggung mengajak teman semua untuk mengenal lebih jauh sosok salah satu tokoh Bangsa Indonesia, yaitu Prof. K. H. Abdul Kahar Mudzakkir Prof. K. H. Abdul Kahar Mudzakkir adalah salah satu Pahlawan Nasional yang lahir di Yogyakarta pada 16 April 1907. Beliau adalah keponakan dari H. Munawir, pendiri Pondok Pesantren Krapyak. Sedangkan kakek buyut beliau adalah Kyai Hasan Bashori, pemimpin Tarekat Syattariyah yang juga komandan laskar Pangeran Diponegoro hingga ikut diasingkan ke Minahasa. Beliau melanjutkan studi dari SD Muhammadiyah Selokraman Kotagede ke beberapa pondok pesantren: Ponpes Gading, Ponpes Krapyak, Ponpes Jamsaren Surakarta dan Ponpes Tremas Jawa Timur. Hingga kemudian guru beliau, seorang tokoh Muhammadiyah yakni K. H. Mukti mendorong beliau untuk melanjutkan belajar ke Makkah dan Kairo. Pada 1924 Abdul Kahar Mudzakkir berangkat ke Makkah untuk berhaji sekaligus menuntut ilmu, dilanjutkan belajar di Universitas Al Azhar dan Universitas Darul Ulum Mesir. Selama 13 tahun tinggal di Mesir, beliau ikut berjuang untuk Indonesia dengan mendirikan Perhimpunan Indonesia Raya yang aktif menyuarakan perjuangan Bangsa Indonesia pada negeri-negeri Arab. Beliau juga sempat menjadi sekretaris Kongres Islam Sedunia di Baitul Maqdis (diketuai oleh Mufti Besar Palestina Sayyid Amin Al Husaini) atas persetujuan pimpinan Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII). Beliau pulang ke tanah air pada 1936. Selain aktif di Muhammadiyah, beliau juga bergabung di Partai Islam Indonesia (PII) sejak 1938. Menjelang kemerdekaan, beliau ikut terlibat sebagai Anggota BPUPKI bersama para tokoh Muhammadiyah lainnya seperti Ki Bagus Hadikusumo (Ketua Umum Muhammadiyah) dan Mr. Kasman Singodimejo. Beliau dipercaya masuk ke dalam Panitia Sembilan yang bertugas menyusun rumusan dasar negara dan rancangan konstitusi Indonesia. Nama beliau juga tercatat sebagai salah satu pendiri Universitas Islam Indonesia (UII) dan menjabat sebagai rektor pertama pada 1945-1960. UII adalah perguruan tinggi swasta pertama yang didirikan pasca kemerdekaan Indonesia, sebagai hasil dari Sidang Umum Masyumi tahun 1945. Selain itu beliau juga pernah berkiprah sebagai anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) dan Konstituante dari Fraksi Masyumi. Prof. K. H. Abdul Kahar Mudzakkir wafat di Yogyakarta pada 2 Desember 1973 Itulah kisah Tokoh Kita kali ini, nantikan kisah dari tokoh-tokoh lainnya yang akan dibagikan di media sosial KPU Kab. Temanggung #kpu #komisipemilihanumum #kputemanggung #tokohkita #demokrasi #sejarah #bpupki #panitiasembilan #kaharmudzakkir #muhammadiyah #masyumi

Tokoh Kita : R. M. Abikoesno Tjokrosoejoso

Hai #TemanPemilih, hari ini KPU Kab. Temanggung mengajak teman semua untuk mengenal lebih jauh sosok salah satu tokoh Bangsa Indonesia, yaitu R. M. Abikoesno Tjokrosoejoso Abikoesno Tjokrosoejoso adalah salah satu Bapak Bangsa Indonesia yang lahir di Madiun pada 15 Juni 1897, dan merupakan adik kandung dari H. O. S. Tjokroaminoto. Beliau menyelesaikan studi di sekolah tinggi arsitektur Batavia, Architectsexamen pada 7 Februari 1925 dan di tahun yang sama berhasil meraih sertifikasi arsitektural dari Belanda. Pasca wafatnya H. O. S. Tjokroaminoto, Abikoesno Tjokrosoejoso dipercaya untuk meneruskan estafet kepemimpinan di Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII) sejak 1934. Bersama Mohammad Husni Thamrin (Parindra) dan Amir Syarifuddin (Gerindo), beliau kemudian membentuk Gabungan Politik Indonesia (GAPI) yang memperjuangkan pembentukan parlemen di Indonesia yang saat itu masih terjajah. Menjelang kemerdekaan, Abikoesno Tjokrosoejoso ikut terlibat di keanggotaan BPUPKI dan dipercaya masuk ke dalam Panitia Sembilan yang menyusun rumusan dasar negara dan rancangan konstitusi Indonesia. Kiprah beliau berlanjut di PPKI, dimana beliau dikenal sebagai penggagas naskah Sumpah Presiden. Setelah Indonesia merdeka, Presiden Sukarno mempercayakan beliau untuk merangkap jabatan Menteri Perhubungan sekaligus Menteri Pekerjaan Umum. Salah satu peninggalan monumental beliau saat menjadi Menteri Perhubungan selama 2 kabinet adalah pembukaan jalur kereta api Jakarta-Merak. Beberapa bangunan juga merupakan karya arsitektur beliau: Masjid Syuhada Yogyakarta, Gedung Museum M. H. Thamrin, Pasar Cinde Palembang dan Masjid Asy Syuro Garut. Pada 30 Agustus 1952, bersama dengan K. H. Abdul Wahid Hasyim (NU) dan Sirajuddin Abbas (Perti), beliau mendirikan Liga Muslimin Indonesia. R. M. Abikoesno Tjokrosoejoso wafat di Surabaya pada 11 November 1968 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Surabaya. Itulah kisah Tokoh Kita kali ini, nantikan kisah dari tokoh-tokoh lainnya yang akan dibagikan di media sosial KPU Kab. Temanggung #kpu #komisipemilihanumum #kputemanggung #tokohkita #demokrasi #sejarah #perjuangankemerdekaan #foundingfathers #bpupki #panitiasembilan #abikoesnotjokrosoejoso #psii #masyumi

Tokoh Kita : H. Agus Salim

Hai #TemanPemilih, hari ini KPU Kab. Temanggung mengajak teman semua untuk mengenal lebih jauh sosok salah satu tokoh Bangsa Indonesia, yaitu H. Agus Salim H. Agus Salim adalah Pahlawan Nasional yang juga dikenal sebagai Bapak Pandu Indonesia, lahir di Agam pada 8 Oktober 1884 dengan nama kecil Masyhudulhaq (pembela kebenaran). Beliau dicatat sejarah sebagai seorang orator, jurnalis dan diplomat ulung yang menguasai 9 bahasa. Saat muda beliau telah menoreh prestasi dengan menjadi alumni terbaik Hoogere Burgerschool (HBS) se-Hindia Belanda, sekolah menengah yang siswanya didominasi oleh anak Eropa. Namun permohonan beasiswa beliau untuk kuliah kedokteran di Belanda ditolak pemerintah Hindia Belanda. Beliau juga menolak pengalihan hak beasiswa oleh R. A. Kartini. Akhirnya pada 1906 beliau berangkat ke Jeddah, Arab Saudi untuk bekerja di Kedutaan Besar Belanda dalam hal mengurus jamaah haji Hindia Belanda. Disana beliau banyak berguru pada Imam Masjidil Haram, Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi yang masih merupakan paman beliau dan juga guru dari K. H. Ahmad Dahlan serta K. H. Hasyim Asy'ari. Pada 1912 sepulang ke tanah air beliau mendirikan sekolah dasar berbahasa Belanda untuk pribumi. Sejak 1915 H. Agus Salim juga ikut aktif di Sarekat Islam, dan menjadi orang kedua disana setelah H. O. S. Tjokroaminoto hingga berhasil terpilih menjadi anggota Volksraad pada 1921. Beliau juga berkarier sebagai jurnalis yang aktif berkarya di berbagai surat kabar, termasuk mendirikan surat kabar Fadjar Asia bersama H. O. S. Tjokroaminoto pada 1927. H. Agus Salim terlibat sebagai anggota BPUPKI dan menjadi bagian dari Panitia 9. Beliau adalah penghalus bahasa dalam penyusunan batang tubuh UUD 1945. Setelah Indonesia merdeka, beliau dipercaya menjadi Menteri Luar Negeri selama 3 kabinet (PM Sutan Syahrir, PM Amir Syarifuddin dan PM Mohammad Hatta), sebelum digantikan oleh Mr. Mohammad Roem. Peran beliau sangat besar bagi perjuangan diplomasi Indonesia, termasuk misi diplomasi untuk mendapatkan pengakuan perdana kemerdekaan Indonesia dari Palestina, Mesir, India, Suriah dan Vatikan, hingga Presiden Sukarno menjuluki beliau "The Grand Old Man" (sesepuh agung). Beliau terlibat sebagai delegasi Indonesia di Sidang Dewan Keamanan PBB tahun 1947 yang membahas Agresi Militer Belanda I. Saat terjadi Agresi Militer Belanda II di 1948, Belanda menangkap Presiden Sukarno, Wapres Hatta dan H. Agus Salim di ibukota Yogyakarta. Ketiganya lalu diasingkan ke Sumatera. Beliau juga terlibat pada pelaksanaan Konferensi Meja Bundar di Den Hag tahun 1949. H. Agus Salim wafat di Jakarta pada 4 November 1954 dan dimakamkan di TMPN Kalibata. Nama beliau diabadikan menjadi nama jalan di berbagai kota dan nama gelanggang olahraga di Padang Itulah kisah Tokoh Kita kali ini, nantikan kisah dari tokoh-tokoh lainnya yang akan dibagikan di media sosial KPU Kab. Temanggung #kpu #komisipemilihanumum #kputemanggung #tokohkita #demokrasi #sejarah #pergerakannasional #perjuangankemerdekaan #foundingfathers #bpupki #panitiasembilan #agussalim