Opini

GENERASI MUDA MERAWAT DEMOKRASI

Perjalanan panjang Bangsa Indonesia telah menunjukkan peran besar generasi muda di setiap episode sejarah. Kita dapat mempelajari kisah bagaimana politik etis oleh Pemerintah Hindia Belanda menghasilkan generasi terpelajar, para pribumi muda yang sadar bahwa negerinya terjajah dan sadar untuk bangkit bergerak memperjuangkan kemerdekaan. Lahirnya Boedi Oetomo di 20 Mei 1908, yang hingga hari ini kita peringati sebagai Hari Kebangkitan Nasional, menjadi salah satu bukti nyata perjuangan generasi muda saat itu. Uniknya, para pelopor di era itu didominasi para mahasiswa kedokteran, sebuah bidang keilmuan yang sebenarnya cukup jauh dari pembahasan sosio humaniora. Sebut saja dr. Tjipto Mangoenkoesoemo, dr. Soetomo, dr. Wahidin Soedirohoesodo, dr. Radjiman Wedyodiningrat dan lain sebagainya.

Momen kebangkitan nasional sekaligus menjadi penanda meleburnya perjuangan yang awalnya bernuansa kedaerahan, menjadi perjuangan yang bersifat nasional. 20 tahun kemudian, tepatnya pada 28 Oktober 1928, generasi muda kembali membuktikan diri sebagai motor perubahan. Dengan penuh keberanian mereka mengucap sumpah sakral pada Ibu Pertiwi. Mengaku bertumpah darah yang satu, Tanah Air Indonesia. Mengaku berbangsa yang satu, Bangsa Indonesia. Dan menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia. Komitmen tersebut, yang saat ini kita kenal sebagai Sumpah Pemuda, adalah sebuah wujud aksi visioner dari para pemuda terpelajar kita.

Lalu apakah dengan berbekal kesadaran untuk bangkit di tahun 1908 dan sumpah setia di tahun 1928 kita serta merta bisa meraih kemerdekaan? Kemerdekaan bangsa ini akhirnya baru bisa diraih di tahun 1945, atau 17 tahun pasca Sumpah Pemuda. Proklamasi Kemerdekaan dibacakan dengan lantang oleh Bung Karno yang saat itu berusia 44 tahun, menjadikannya sebagai presiden termuda saat dilantik. Kita pun disuguhkan bagaimana peran kaum muda yang sempat membawa Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklok, untuk memastikan kemerdekaan Indonesia dapat diproklamirkan dengan segera.

Setelah Indonesia merdeka peran generasi muda tetap menentukan perubahan. Aksi Tritura oleh mahasiswa di tahun 1966 berhasil mendorong bubarnya PKI dan beralihnya kekuasaan negara ke rezim Orde Baru. Namun gelombang aksi mahasiswa pula yang di tahun 1998 berhasil menumbangkan rezim Orde Baru dan membuka lembaran baru, yakni era Reformasi.

Perjalanan panjang sejarah tersebut telah memperlihatkan fakta bahwa perjuangan Bangsa Indonesia untuk memperoleh dan mempertahankan kemerdekaan membutuhkan waktu yang teramat panjang, dan hampir dalam tiap episode krusial generasi muda tampil sebagai penentunya. Bangsa kita hari ini bisa mengenal Demokrasi Pancasila juga tak lepas dari peran generasi muda. Demokrasi yang berke-Tuhanan, demokrasi yang menjunjung kebebasan yang bertanggung jawab, demokrasi yang mengedepankan musyawarah mufakat, dan demokrasi yang menuju keadilan sosial bagi seluruh rakyat.

Lalu pertanyaannya, seperti apa peran generasi muda masa kini dalam mensyukuri dan meneladani jasa generasi muda terdahulu? Mau dikenang dengan kontribusi seperti apa generasi ini oleh generasi selanjutnya? Generasi muda sejatinya selalu menjadi tumpuan harapan, karena sebagian besar mereka memiliki banyak modal sebagai motor perubahan: idealis, penuh keberanian, penuh semangat, menjadi sumber ide-ide baru, dan berdampak pada lingkungan di sekitarnya.

Dari segi jumlah pun generasi muda menunjukkan pengaruh yang besar. Hal ini misalnya bisa dilihat dari jumlah pemilih pada Pilkada tahun 2024 di Kabupaten Temanggung, dimana Gen Milenial sebanyak 184.195 orang, Gen X sebanyak 183.189 orang dan Gen Z sebanyak 130.947 orang mendominasi dari total 620.026 pemilih. Angka ini membuktikan bahwa jika generasi muda telah berkesadaran untuk mengisi kemerdekaan dan membangun bangsa maupun daerah, maka kita juga akan mampu mewujudkan kontestasi demokrasi yang berkualitas.

Partisipasi positif generasi muda adalah kunci dari upaya memajukan dan menyehatkan demokrasi kita. Untuk itulah kita harus terus menyadarkan generasi muda agar ambil peranan secara aktif, tidak menjadi pribadi yang apatis terhadap kondisi bangsa dan daerahnya, termasuk terhadap kondisi demokrasi dan politik. Karena sesungguhnya setiap hal dalam kehidupan kita amat dipengaruhi oleh dinamika dan kebijakan politik.

Lalu bagaimana faktanya di lapangan? Pemilih di Kabupaten Temanggung yang didominasi generasi muda itu telah membuktikan partisipasi aktifnya dari masa ke masa. Sejak Pilkada 2008 dan Pemilu 2009, angka partisipasi pemilih terbukti tidak pernah berada di bawah 80%. Puncaknya pada Pemilu 2024, dimana angka pemilih di Temanggung mencapai 90,44% hingga meraih penghargaan sebagai partisipasi masyarakat terbaik oleh KPU Provinsi Jawa Tengah.

Kita juga harus sadar bahwa kualitas pemilih jauh lebih utama ketimbang kuantitasnya, yaitu upaya membangun rasionalitas pemilih. Kualitas itu bisa diwujudkan salah satunya dengan proses sosialisasi dan pendidikan pemilih yang optimal, dan gambaran kualitas itu bisa dilihat dari salah satu indikator, yakni kondusivitas pasca kontestasi. Di Kabupaten Temanggung, pasca tahapan pemilu dan pilkada kondisi sosial kemasyarakatan relatif kondusif, tanpa adanya sengketa maupun ekses lain. Ini berarti masyarakat Temanggung dan generasi mudanya berhasil menunjukkan partisipasi yang positif dalam penyelenggaraan pesta demokrasi, baik sebagai pemilih, peserta, penyelenggara, maupun peran lainnya. Tercipta sebuah kolaborasi dan sinergi yang baik dalam perannya masing-masing.

Namun kita juga harus menyadari, bahwa kita hidup di zaman yang penuh ancaman bagi demokrasi. Bagaimana politik uang, hoaks/fitnah, konflik horizontal dan pengaruh negatif lainnya telah membayangi dinamika dalam berdemokrasi. Maka peran besar yang menanti generasi muda kita adalah sebuah perjuangan untuk merawat demokrasi. Sebuah upaya untuk menjaga integrasi bangsa, menjamin kebebasan berpendapat, melestarikan budaya musyawarah mufakat, menegakkan perlindungan hak asasi manusia, membudayakan toleransi atas keragaman, memastikan adanya pembagian kekuasaan yang proporsional sesuai prinsip Trias Politica, serta mengawal pesta demokrasi yang benar-benar menerapkan asas Langsung, Umum, Bebas, Rahasia, Jujur dan Adil.

Generasi muda perlu tampil kedepan untuk memastikan seluruh elemen masyarakat tetap bersatu di tengah perbedaan pilihan dalam berdemokrasi. Untuk memastikan pula bahwa masyarakat ikut mengawal pelaksanaan program kerja para pemimpin terpilih, baik di eksekutif maupun legislatif, secara obyektif tanpa adanya fanatisme buta terhadap tokoh yang didukung saat Pemilu/Pilkada, yakni bersama-sama mendukung seluruh program yang baik, dan mengkritisi secara konstruktif program-program yang dinilai kurang baik. Kesadaran untuk memilih secara bertanggung jawab inilah yang akan membangun kerangka pertimbangan evaluatif untuk kontestasi demokrasi selanjutnya.

 

Oleh : 

R. M. Bagus Pratomo, S. T., S. H.

Ketua Divisi Sosialisasi, Pendidikan Pemilih, Partisipasi Masyarakat dan Sumber Daya Manusia

KPU Kabupaten Temanggung

Bagikan:

facebook twitter whatapps

Telah dilihat 839 kali
🔊 Putar Suara